Jumat, 05 Agustus 2016

Tuhan



Tuhan, pagi ini diantara dua sujud;
Aku bersyukur, lagi.
Dipertemukan pada salah satu ciptaanMu yang indah,
Kau kembali mendapatkan kekagumanku, atas kuasaMu.

Tuhan, diantara dua sujud;
Aku merapal namanya berulang, lagi.
Mengenalnya mengajarkan kepadaku banyak hal.
Mencintainya membuat aku paham,
bahwa cinta memang tidak harus memiliki.
Dan menyayanginya, adalah pesakitan yang aku nikmati
pada setiap kali hatiku di remuknya.

Tuhanku, terimakasih;
Diantara dua sujud aku memohon pengampunanMu,
Untuk apa yang terjadi diantara kami.

selamat kepagian

Selamat pagi, 
Dari hati yang telah kau singgahi
dan menanti kepulanganmu lagi.
Sampai mana kau berlayar, kekasih?
Apa saja yang telah kamu temui?
Adakah dari setiap petualanganmu itu,
yang mampu membuatmu betah berlama-lama?
Kembalilah, berlabuhlah kembali disini..


Di hatiku.

Rindu

Bau tubuhmu mengingatkan pesan ibuku
Yang senantiasa merindu pada sholawat dan dzikir

Selepas aku bersolat lail.
Seperti berlembar kembang melati.
Yang tersimpan dalam ruas buku hariannya.
Meski kering dan mengertas
Namun harumnya tetap menggugah kangen kepada siapa saja yang tercatat


Kini ibuku telah berpulang bersama lembaran bunga melati.

Tapi ia tinggalkan harumnya bermukim di tubuhmu
Aku pun merindu



Agoes Dhewa

Selasa, 05 April 2016

Dari Agoes Dhewa

Kado Untuk Seli -- 

Pandanglah bulan dan matahari di antara semak belukar
karena kamu punya kedua tangan untuk membiasnya

Gapailah bintang gemintang di atas bukit bertanah terjal
karena kamu punya dua kaki untuk melangkah

tetaplah bertengadah ke langit dengan mata hatimu
tetaplah tegap berdiri di atsa riuh jagad raya dengan sajadahmu

kun fayakun

-- met ultah. Salam.


Semarang, 2016

prolog

drastis.
tak kuasa menahan duka.

menyadari bahwa detik terakhir yang kumiliki
hanya itu yang mampu kurengkuh dari nyata dirimu.
tubuh itu dekat, sepasang bola mata favorit menatap lekat.
mereka sadar perubahanku.
tapi mereka tak paham apa yang sebenarnya terjadi.

hilang.
jiwaku lenyap dalam dekapanmu.

sirna.
sukmaku terbawa kepergianmu.

bersimpuh dihadapannya,
sepasang bibir merapal nama, berulang.
ditutup dengan airmata berontak melalui kelopak mata.

tuhan, lepaskan aku dari jeratannya.

Minggu, 17 Januari 2016

Semesta

Aku lelah diperbudak rindu
merubahku jadi pengganggumu.
Mungkin benar adanya logika,
kau tak perlu prioritaskan ia
karena iapun belum tentu memprioritaskanmu.
Kau tak perlu repot menangiskarena iapun takkan pernah tau.
Kau tak perlu menghabiskan banyak energi
hanya untuk menunggu kabarnya sedang ia disana mengingatmupun tidak.
Kau tak perlu setiap menit mengecek handphonemu dengan harapan notifikasi darinya.


Sudahlah, kau harus sadar bahwa kau,
bukan apa-apa yang berharga dibanding apa yang telah ia miliki.
Kau hanya salah satu bintang kecil yang redup,
diantara bintang bersinar lain dalam hidupnya yang kau anggap semestamu.
Kau harus berusaha ikhlas mencintai ia dengan setia dalam doa yang tak henti dipanjatkan padaNya.
Karena mendoakan adalah cara mencintai paling rahasia.
Bersyukurlah karena kau masih memiliki cara,
untuk sekedar melepas jeratan rindu dengan memandangi fotonya yang ada. Itu harus cukup.
Karena kau HARUS terima bahwa waktunya bukan semata-mata milikmu.
Barangkali ini terakhirku tunduk pada perintah rindu.
Kepadamu, Semestaku..
Aku mencintai dan menyayangimu, selalu.