Kado Untuk Seli --
Pandanglah bulan dan matahari di antara semak belukar
karena kamu punya kedua tangan untuk membiasnya
Gapailah bintang gemintang di atas bukit bertanah terjal
karena kamu punya dua kaki untuk melangkah
tetaplah bertengadah ke langit dengan mata hatimu
tetaplah tegap berdiri di atsa riuh jagad raya dengan sajadahmu
kun fayakun
-- met ultah. Salam.
Semarang, 2016
Terimakasih Sigmund Freud untuk istilah ini. Aku tidak pandai berpuisi, aku hanya senang meluapkan emosi melalui kata-kata. Panggil aku Seli, salam kenal. Selamat membaca
Selasa, 05 April 2016
prolog
drastis.
tak kuasa menahan duka.
menyadari bahwa detik terakhir yang kumiliki
hanya itu yang mampu kurengkuh dari nyata dirimu.
tubuh itu dekat, sepasang bola mata favorit menatap lekat.
mereka sadar perubahanku.
tapi mereka tak paham apa yang sebenarnya terjadi.
hilang.
jiwaku lenyap dalam dekapanmu.
sirna.
sukmaku terbawa kepergianmu.
bersimpuh dihadapannya,
sepasang bibir merapal nama, berulang.
ditutup dengan airmata berontak melalui kelopak mata.
tuhan, lepaskan aku dari jeratannya.
sepasang bibir merapal nama, berulang.
ditutup dengan airmata berontak melalui kelopak mata.
tuhan, lepaskan aku dari jeratannya.
Langganan:
Postingan (Atom)